Home Ads

Senin, 22 Juli 2019

Jual Keripik Kulit Lumpia Murah | Satu Setengah Abad Lumpia Semarang dan Cerita Keteguhan Para Penerus (2-Habis)





Jual Keripik Kulit Lumpia Murah - Sebelum menelurkan keripik lumpia, Cik Meme sudah mengkreasikan sekian banyak  isian lumpia sampai diganjar penghargaan. Akan terus berkreasi supaya generasi mendatang tak hanya kenal pizza.

SHABRINA PARAMACITRA, Semarang



“INI hari sangat bahagia dalam hidup saya. Hari bersejarah untuk perjalanan kue lunpia,” ucap Meliani Sugiarto malam tersebut (23/3) di kedai Lunpia Cik Me Me.

Wajahnya semringah. Acara peluncuran Keripik Lunpia Cik Me Me siang tersebut berjalan mulus. Banyak konsumen, wartawan, dan social media influencer yang muncul menyukseskan acara tersebut.

“Akhirnya, sesudah satu tahun mengerjakan riset, jadi pun keripik lunpia ini,” sambung wanita yang sering disapa Cik Me Me itu.

Adalah suami istri Tjoa Thay Joe dan Wasi, kakek dan nenek buyut Cik Meme, yang kali kesatu mengenalkan lumpia di Semarang pada 1870. Lumpia berasal dari kata dalam bahasa Hokkian. Lun dengan kata lain lunak dan pia berarti kue.

Awalnya, lumpia ialah modifikasi dari kue run bing yang dipasarkan di Tiongkok oleh Tjoa Thay Joe. Rasanya tidak banyak asin.

Setelah hijrah ke Indonesia dan menikah dengan Wasi, kue itu berubah. Kebetulan, sebelum menikah dengan Tjoa Thay Joe, Wasi pun berjualan kue gulung yang bentuknya serupa dengan run bing, namun rasanya tidak banyak lebih manis. Lahirlah lumpia dari akulturasi tersebut.

Cik Meme ialah cucu Siem Hwa Nio, pendiri Lunpia Mataram. Siem Hwa Nio adalahsaudara kandung dari Siem Swie Kiem dan Siem Swie Hie. Ketigaya generasi ketiga keturunan Tjoa Thay Joe dan Wasi.

Siem Swie Kiem adalahpengelola Lunpia Gang Lombok yang sekarang diteruskan sang anak, Untung Usodo. Adapun Siem Swie Hie ialah pendiri Lunpia Pemuda yang diteruskan sang anak, Siem Siok Lien atau Mbak Lien, dan nama kedainya kini pulang menjadi Kedai Loenpia Mbak Lien.

Bagi Cik Me Me, keripik lumpia ialah hal yang istimewa. Sebab, semenjak lumpia kesatu diciptakan pada 1870 oleh kakek dan nenek buyutnya, baru kali ini lumpia divariasikan menjadi keripik. Keripik tersebut terbuat dari gabungan bahan-bahan kulit dan isian lumpia, yang lantas dikeringkan, kemudian digoreng.

Tak laksana lumpia basah yang melulu mampu bertahan 8 jam dan lumpia goreng yang bertahan 24 jam, keripik lumpia dapat bertahan 3-4 bulan. Cik Me Me paling hati-hati dalam mengenalkan varian terbarunya itu.

Februari kemudian dia urung mengenalkan produk tersebut untuk utusan pemerintah dan pengusaha Malaysia yang menyelenggarakan pertemuan dengan pengusaha-pengusaha dari Jawa Tengah. Ada pengalaman tidak cukup mengenakkan yang jadi penyebab.

Memori aksi protes atas klaim Malaysia terhadap lumpia semarang di Kedutaan Malaysia tahun 2015 masih meninggalkan bekas di benaknya. Kala tersebut dia bareng Forum Masyarakat Peduli Budaya Indonesia (Formasbudi) berdemo membawa tumpeng dan lumpia semarang ke kantor kedutaan. Dia tak terima, negeri jiran tersebut mengklaim lumpia sebagai jajanan khas kepunyaan mereka.

Padahal, jelas-jelas lumpia sudah diputuskan sebagai warisan kebiasaan nasional tak benda oleh pemerintah. Bahkan, sudah dinyatakan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). “Lunpia tersebut sudah menjadi urat nadi saya. Saya tidak rela warisan dari leluhur saya tahun 1870 tiba-tiba dinyatakan Malaysia,” kenang Cik Me Me.

Itulah yang membuatnya tak mau memperkenalkan keripik lumpia untuk utusan dari Malaysia pada Februari lalu. Apalagi, saat tersebut keripik lumpia belum dikenalkan secara resmi. “Saya telah bawa sampelnya, namun tak masukin tas saja. Daripada nanti ditiru, terus dinyatakan Malaysia, hahaha,” canda ibu satu anak itu.

Pada 2014, Cik Me Me menegakkan Lunpia Delight yang kemudian diolah namanya menjadi Lunpia Cik Me Me pada 2017. Jauh sebelum itu, semenjak kecil dia terbiasa menolong ayahnya, Tan Yok Tjay, menjalankan usaha Lunpia Mataram.

Usaha lumpia di dekat Jalan Mataram (sekarang Jalan MT Haryono) kepunyaan Siem Hwa Nio dijalankan pada 1960. Kemudian, diwariskan untuk ayah Cik Me Me, Tan Yok Tjay, pada 1980.

Perempuan kelahiran 27 Juni 1979 tersebut bercerita, dirinya pernah hingga bolak-balik Jakarta-Semarang demi berjualan lumpia. Dulu Cik Me Me menempuh edukasi sarjana akuntansi di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Setiap akhir pekan dia kembali ke Semarang untuk menolong ayahnya berjualan lumpia.

Dia kembali ke Semarang dengan kereta api masing-masing Jumat sore. Kemudian, Senin pagi, berakhir subuh, dia naik kereta api lagi mengarah ke Jakarta. Biasanya dia hingga di Jakarta selama pukul 11.00 WIB. Kemudian, dari stasiun, dia langsung pergi kuliah.

Dari aktivitasnya bolak-balik antarkota itu, Cik Me Me tak melulu belajar mengenai teknik membuat lumpia. Dia pun belajar ilmu marketing dan teknik berjualan yang tepat. “Seiring pertumbuhan zaman, saya belajar saat tersebut bahwa anda ini ndak dapat buka toko jam 9 pagi sebab orang-orang telah pada kerja. Hal-hal seperti tersebut semakin menguatkan ilmu saya tentang bisnis lunpia ini,” ujar Cik Me Me yang sampai kini masih aktif memantau pembuatan lumpia di dapur Kedai Lunpia Cik Me Me itu.

Dia belajar dari sang ayah yang sampai ketika ini pun masih tidak jarang “turun” ke dapur untuk memantau pembuatan lumpia di Kedai Lunpia Mataram. “Papa saja, walau sudah sepuh dan pendengarannya agak tidak banyak terganggu, masih cinta pada lunpia hingga harus turun ke dapur sendiri,” katanya.

Di kedai miliknya itu, terdapat klipingan artikel dari koran yang mencatat tentang kiprah ayahnya sebagai maestro lumpia dari Semarang. Klipingan tersebut dipigura dan dipajang di di antara sudut dinding kedai. Berjajar dengan tulisan-tulisan beda yang membicarakan profil Cik Me Me sebagai pengusaha lumpia.

Jawa Pos mendapati Anita Wahyudhi, seorang pengunjung Kedai Lunpia Cik Me Me, terlihat memandangi klipingan tulisan tentang Tan Yok Tjay, ayah Cik Me Me, pada Sabtu sebulan lalu tersebut (23/3). “Oh, jadi ayahnya yang punya kedai ini pun pembuat lumpia ya,” katanya.

Wanita yang bermukim di Aceh tersebut mengernyitkan kening dan matanya memandang dekat klipingan-klipingan artikel yang dipajang di dinding. Dia berkeinginan membandingkan potret wajah Tan Yok Tjay dengan potret wajah Cik Me Me. “Mirip ya. Coba ah, berakhir ini mampir ke Lunpia Mataram,” ucapnya, kemudian bergegas mengarah ke kasir.

Sebelum sukses mengkreasikan lumpia menjadi keripik, Cik Me Me pernah mengkreasikan sekian banyak  isian lumpia. Hingga mendapat penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) sebagai lumpia dengan variasi rasa terbanyak.

“Dari ruang belajar I SD saya telah ke pasar, milih-milih bahan lunpia. Saya selamanya bakal meneruskan tradisi jualan lunpia ini dan mengkreasikannya agar anak cucu anda tahunya ndak hanya pizza saja,” ucapnya.

Tiba-tiba dua pengunjung kedai menyela obrolan dengan Cik Me Me. Rupanya, mereka hendak foto bersama sang empunya kedai sesudah samar-samar menculik dengar percakapannya dengan Jawa Pos.

“Saya kagum dengan kegigihan Ibu (Cik Me Me),” kata seorang di antaranya.

Cik Me Me berterima kasih. Dan, melayani permintaan foto bersama itu sembari tersenyum lebar. Gurat kehormatan hati tergambar jelas di wajahnya. Wajar, perjuangan keras dia dan family besar melestarikan sudah mendapat apresiasi luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Customer Service

My Blog List

Comments

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

ORDER VIA WHATSAPP